Minggu, 12 Januari 2014

Kepada Kamu Lelakiku

 “..untuk setiap depa per depa jarak yang membuat kita jauh. Percayalah, aku adalah doa yang mendekapmu saat kau hampir jatuh. Jaga rindumu baik-baik, aku pasti kembali. Aku mencintaimu”.

Aku pernah begitu jatuh, lupa cara untuk bangkit dan berjalan lagi. Pernah begitu terpuruk dalam kesedihan-kesedihan atas pengkhianatan dari indahnya setia yang aku jaga rapat-rapat.
Lalu kau datang. Tak menawarkan apa-apa selain pundak dan dada yang melarungkan kesedihan-kesedihan.
Dan aku jatuh telak dalam dekapmu. Dalam pelukan lengan yang terbitkan hangat di dalam dada. Dalam bisik peluk paling puisi yang membuatku merasa begitu dicintai. Dan aku tak merasa harus bangkit dari sana, tak merasa harus pergi dan berjalan lagi.
Lelakiku, betapa pelukmu adalah obat bagi rinduku yang pesakitan.
Betapa tawamu mampu hadirkan cahaya pada gulita yang membutakan.
Betapa kau begitu memesona bagi hatiku yang rapuh untuk kembali jatuh cinta.
Sungguh semesta mempertemukanku padamu agar aku belajar cara bersyukur.
Maka, jaga dirimu dan rindu (kita) yang mengungkung dadamu baik-baik, sampai semesta mengizinkan temu dan berjanjilah, saat (pertemuan) itu terjadi, kau dan aku akan sama-sama membunuh rindu dalam dekapan-dekapan yang dicatat semesta sebagai terang bagi bintang-bintang baru. Berjanjilah untuk ikut menyaksikan rindu yang mengusik kita selama ini mati satu-satu.
Lelakiku...
Terimakasih untuk datang di waktu yang tepat.
Terimakasih untuk tak pergi dan memilih memperjuangkan.
Terimakasih untuk mengingatkanku bagaimana cara jatuh cinta.
Kepada laki-laki yang paling pandai menyesaki dadaku dengan debar bahagia dan rindu, aku sayang kamu...

 ”rindu pada akhirnya. akan membawaku untuk ke sini, atau menunjukkan jalan bagimu untuk ke sana. agar kita —aku dan kau— selalu bersama. Dalam cinta..

Sudah, pergilah...

Sudah tidak ada lagi  yang tersisa diantara kita, selain kenangan yang sudah seharusnya kita tutup rapat-rapat. Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan, segala rasaku memang telah lama mati. Kebersamaan kita hanya akan menambah perih. Kebohongan dan rasa bersalah, mungkin hanya itu yang tersisa, selebihnya tak ada rasa. Jalan hidup kita sudah jauh berbeda. Rasanya aku tak lagi mengenalmu. Pertemuan kita diwaktu lalu semakin memperjelas semuanya. Aku dan hidupku, kamu dan hidupmu. Sudah, pergilah... aku tak akan menangis, belum pernah aku merasa sebaik ini tanpamu...

Sesaat kita terjebak pada masa lalu, terbuai akan rasa yang seharusnya tak lagi menjadi milik kita. Pernah kita saling mencintai, hingga tak pernah salah satu dari kita mempertanyakan arti dari keberadaan kita, tapi sekarang aku tak lagi merasakan getaran itu.Semakin aku mempertanyakan, semakin aku sadar kamu tidak lagi istimewa dalam hidupku, hadirmu tak lagi aku rindukan, aku baik-baik saja tanpamu. Aku dan kamu, kita  hanya kenangan yang tak lagi sejalan, sudah pergilah... Aku tak pernah membencimu. Aku pun tak pernah menyimpan amarah, hanya saja aku tak akan merindukanmu lagi...

Sudah, pergilah bersama semua kenangan kita, aku berharap kita tak pernah bertemu lagi, tidak dalam mimpi sekalipun...
Berbahagialah dengan hidupmu, dan aku akan lebih bahagia dengan hidupku...

Sudah, pergilah... Aku merelakanmu demi sekeping hati baru, hati yang berhak untuk dicintai lebih dari yang pernah kamu beri, hati yang berhak bahagia lebih dari sebelumnya, menjadi satu-satunya hati yang tak terbagi....


Aku berdoa dengan lafadz paling baik untukmu...
Semoga Tuhan selalu menjagamu dan memberimu kebahagiaan...



Untukmu kenangan,
Untuk semua rasa yang telah usang,
Untuk sekeping hati baru yang berhak bahagia, aku merelakanmu...


All about love © 2008 Por *Templates para Você*