Langsung ke konten utama

Aku dan Kamu, Kita???


Masih saja aku ingin tau semua tentangmu, hidupmu. Hanya sekedar menguji, ternyata sudah tak ada lagi detak jantungku yang berdegup kencang ketika melihatmu bersamanya. Aku memang tak pernah membencimu tapi aku sudah cukup mengerti bagaimana kamu. Setidaknya, aku tak akan pernah lagi percaya kata-katamu. Jika tak ingin disebut sebagai pembohong, mungkin lebih tepat aku menyebutmu sebagai pemain peran. Seringkali kamu bermanja dan berkata manis ketika di depanku. Kamu berusaha membuatku tersentuh. Kamu tau usahamu sungguh sia-sia. Aku tak tersentuh lagi "sayang". Kamu terlalu ceroboh. Bagaimana mungkin menyatukan perasaan bersalah dan cinta menjadi satu bagian dalam kisah cinta romantis??? Kamu pemain peran yang buruk. Dan aku menjadi penikmat setia permainan burukmu. 


Pergi saja "Sayang", sudahi saja semua permainan ini. Aku lelah melihat semua tingkahmu. Aku juga tak ingin menjadi pemain peran yang buruk sepertimu. Aku tak bisa berpura-pura lagi. Rasa sakit yang kamu torehkan dalam kisah kita sudah cukup menghapuskan semua perasaan cinta dalam hatiku untukmu. Hanya kenangan yang tersisa, biarlah ia menjadi bagian dalam hidupku. Biar saja ia menjadi bagian masa laluku. 

Sudah saatnya berdamai dengan takdir Tuhan. Aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesan Untukmu

Malam menjemputku sendiri,dingin dan sepi... Teringat tentang kisah yg tak pernah berujung manis membuat air mataku terjatuh... Kuberanikan diri menuliskan pesan untukmu meski hanya sekedar bertanya "sedang apa dirimu disana?" Rasa cemas menghampiriku... Berpikir apa reaksimu nanti ketika membaca pesanku... Aku terdiam... Lama rasanya aku menunggu tapi tak pernah ada balasan darimu... Lama rasanya aku menanti hingga semua mulai terasa tak berarti lagi... Aku tertunduk lesu, aku hibur diriku sendiri dengan berpikir " ah... mungkin saja dia sibuk atau lelah dan tertidur atau mungkin saja pesanku tak pernah sampai " Tetap menunggumu, aku mulai menulis catatan kecil tentang doaku untukmu, aku pandangi satu2nya fotomu yg aku miliki... Aku mulai menulis "Tuhan... Kau ciptakan dia dengan sangat indah, ku kagumi makhluk ciptaan-Mu ini dengan rasa cinta yg dalam... Senyumnya, suaranya begitu lekat dalam hati dan pikiranku. Tuhan...ijinkan aku memilikinya, memiliki...

16 April...

Mataku masih sembab, terlalu banyak airmata yang aku keluarkan semalam. Hari yang berat dalam hidupku. Rasanya malas sekali aku bangun pagi ini, tapi aku harus berangkat, waktuku hanya tersisa satu jam saja. Sebulan terakhir hidupku memang jadi tak teratur, kacau dan jauh dari kata damai. Tak pernah aku sangka dia tega menyakiti hatiku begitu dalam. Luka perselingkuhan yang dia torehkan belum kering, masih basah sudah dia tambah dengan luka baru yang menyakitkan. Empat bulan yang lalu, di bulan Desember tepat dihari ulang tahunnya dia memberiku kejutan yang sangat hebat. Pengakuan dari bibirnya sendiri. Dia mengaku telah berselingkuh dengan wanita dalam foto itu. Foto yang sempat aku temukan di dalam dompetnya. Dengan lantang dia katakan tak lagi mencintaiku, dia telah memiliki wanita lain. Sempat aku bicara dengan wanita itu ditelfon. Dia benar-benar wanita yang tak punya hati, tanpa rasa bersalah sedikitpun dia mengakui bahwa selama ini dia telah jadi wanita selingku...

Lilin

Tak pernah menyangka ada tempat seindah malam itu. Lima tahun memang terlalu singkat bagiku untuk mengenal seluk beluk kota yang dingin. "ayo turun, aku sudah lapar..." itu kalimat yang aku dengar dari bibirnya, menyadarkanku dari lamunan panjang. Masih tak percaya hari itu dia datang. Dia sering sekali menggodaku, selalu bilang mau datang dan tertawa lepas ketika tau aku termakan kata-katanya, lagi-lagi dia bohong. Tapi malam itu, dia benar-benar datang. Aku bersiap-siap untuk pergi bersamanya. Tak ada yang spesial dari penampilanku malam itu, make-up ku juga biasa-biasa saja.  "Kita pergi bertiga malam ini..." dia kembali membuka pembicaraan malam itu, aku tersenyum dan bertanya "siapa dia?" aku coba untuk mengingat tapi memang sepertinya aku belum pernah bertemu dengan laki-laki yang bersamanya malam itu. " juniorku" satu kata yang cukup membuatku mengerti. Menyusuri jalanan kota yang dingin, entah kemana dia mau mengajakku,...